MENGENAL SENI JARANAN ASAL DESA NGERDANI, KECAMATAN DONGKO, KABUPATEN TRENGGALEK
Kesenian rakyat merupakan salah satu dari aset kebudayaan yang mempunyai wujud, fungsi, arti dalam kehidupan masyarakat serta memiliki nilai-nilai yang sangat luhur. Bentuk-bentuk kesenian yang ada di tanah air mencerminkan corak dan karakter yang beraneka ragam. Corak dan karakter tersebut muncul karena banyak dipengaruhi oleh sifat dan karakter budaya setempat, darimana masyarakat berasal atau bertempat tinggal. Setiap daerah tentunya memiliki kesenian tradisional yang berbeda antara satu dengan yang lainnya yang menjadi ciri khas suatu daerah bahkan kelompok masyarakat itu sendiri. Jawa Timur merupakan propinsi terbesar kedua di Indonesia yang memiliki kekayaan ragam seni tradisional, salah satunya di Trenggalek memiliki banyak seni jaranan yang menyebar di setiap desanya.
Di Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek memiliki kesenian tradisional yang berupa kesenian jaranan. Di Desa Ngerdani memiliki dua kesenian jaranan, yang pertama grup “Suko Budoyo” yang diprakarsai oleh Bapak Sumadji yang berada di Dusun Suko dan yang kedua grup “Reksa Budoyo” yang diprakarsai oleh Bapak Wadi yang berada di Dusun Pojok, Ngerdani. Akan tetapi disini kami akan sedikit mengupas kesenian jaranan grup “Suko Budoyo” yang ada di RT.13 yang diprakarsai oleh Bapak Sumadji.
Jaranan “Suko Budaya” adalah seni jaranan yang berasal dari Desa Ngerdani, yang memiliki kurang lebih 60 personil atau anggota, 24 pemain tari, dan 13 prajurit. Para penari jaranan ini kebanyakan masih menempuh pendidikan sekolah, sehingga latihan jaranan “Suko Budoyo” dilaksanakan pada hari Sabtu malam di balai desa pada pukul 19:30-22:00 WIB. Seperti kesenian jaranan pada umumnya, jaranan “Suko Budoyo” menggunakan gerak tari kuda lumping, dan menggunakan instrumen musik gamelan dan sebagainya. Jaranan “Suko Budoyo” sudah sering dipentaskan ke luar kota. Jaranan ini juga sering di undang ke berbagai acara formal maupun non formal.
Pada umumnya seni jaranan dipentaskan di tempat terbuka dengan penonton berada disekeliling area. Seni jaranan memiliki berbagai fungsi. Pertama, seni jaranan berfungsi sebagai sarana ritual, hal ini dapat dilihat pada pertunjukan jaranan dalam acara upacara bersih desa dan upacara peringatan siklus kehidupan, misalnya kelahiran, pitonan, pernikahan, dan lain sebagainya. Kedua, seni jaranan berfungsi sebagai hiburan, dapat dilihat dari fungsi jaranan bagi pelaku seninya yaitu merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi masyarakat yang dapat tampil dalam pertunjukan jaranan. Fungsi hiburan juga dapat dilihat dari sisi penonton, bagi penonton yang melihat pertunjukan jaranan dapat melepaskan kepenatan dalam keseharian bekerja dan mendapatkan hiburan dengan atraksi-atraksi yang ditampilkan dalam pertunjukan jaranan. Ketiga, fungsi estetis, dapat dilihat dari tari jaranan yang ditata semua unsur pendukung tarinya mulai gerak, pola lantai, busana, tata rias, iringan musik dan ekspresi penarinya. Keempat, fungsi seni pertunjukan jaranan adalah sebagai pelestarian budaya tradisional merupakan fungsi yang dimunculkan oleh komunitas pelaku seni dalam mengaktualisasikan seninya dan oleh institusi yang memiliki tujuan pelestarian seni budaya tersebut.

