06/02/18

Seni Jaranan Desa Ngerdani Dongko

MENGENAL SENI JARANAN ASAL DESA NGERDANI, KECAMATAN DONGKO, KABUPATEN TRENGGALEK

Kesenian rakyat merupakan salah satu dari aset kebudayaan yang mempunyai wujud, fungsi, arti dalam kehidupan masyarakat serta memiliki nilai-nilai yang sangat luhur. Bentuk-bentuk kesenian yang ada di tanah air mencerminkan corak dan karakter yang beraneka ragam. Corak dan karakter tersebut muncul karena banyak dipengaruhi oleh sifat dan karakter budaya setempat, darimana masyarakat berasal atau bertempat tinggal. Setiap daerah tentunya memiliki kesenian tradisional yang berbeda antara satu dengan yang lainnya yang menjadi ciri khas suatu daerah bahkan kelompok masyarakat itu sendiri. Jawa Timur merupakan propinsi terbesar kedua di Indonesia yang memiliki kekayaan ragam seni tradisional, salah satunya di Trenggalek memiliki banyak seni jaranan yang menyebar di setiap desanya.
Di Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek memiliki kesenian tradisional yang berupa kesenian jaranan. Di Desa Ngerdani memiliki dua kesenian jaranan, yang pertama grup “Suko Budoyo” yang diprakarsai oleh Bapak Sumadji yang berada di Dusun Suko dan yang kedua grup “Reksa Budoyo” yang diprakarsai oleh Bapak Wadi yang berada di Dusun Pojok, Ngerdani. Akan tetapi disini kami akan sedikit mengupas kesenian jaranan grup “Suko Budoyo” yang ada di RT.13 yang diprakarsai oleh Bapak Sumadji.
Jaranan “Suko Budaya” adalah seni jaranan yang berasal dari Desa Ngerdani, yang memiliki kurang lebih 60 personil atau anggota, 24 pemain tari, dan 13 prajurit. Para penari jaranan ini kebanyakan masih menempuh pendidikan sekolah, sehingga latihan jaranan “Suko Budoyo” dilaksanakan pada hari Sabtu malam di balai desa pada pukul 19:30-22:00 WIB. Seperti kesenian jaranan pada umumnya, jaranan “Suko Budoyo” menggunakan gerak tari kuda lumping, dan menggunakan instrumen musik gamelan dan sebagainya. Jaranan “Suko Budoyo” sudah sering dipentaskan ke luar kota. Jaranan ini juga sering di undang ke berbagai acara formal maupun non formal.
Pada umumnya seni jaranan dipentaskan di tempat terbuka dengan penonton berada disekeliling area. Seni jaranan memiliki berbagai fungsi. Pertama, seni jaranan berfungsi sebagai sarana ritual, hal ini dapat dilihat pada pertunjukan jaranan dalam acara upacara bersih desa dan upacara peringatan siklus kehidupan, misalnya kelahiran, pitonan, pernikahan, dan lain sebagainya. Kedua, seni jaranan berfungsi sebagai hiburan, dapat dilihat dari fungsi jaranan bagi pelaku seninya yaitu merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi masyarakat yang dapat tampil dalam pertunjukan jaranan. Fungsi hiburan juga dapat dilihat dari sisi penonton, bagi penonton yang melihat pertunjukan jaranan dapat melepaskan kepenatan dalam keseharian bekerja dan mendapatkan hiburan dengan atraksi-atraksi yang ditampilkan dalam pertunjukan jaranan. Ketiga, fungsi estetis, dapat dilihat dari tari jaranan yang ditata semua unsur pendukung tarinya mulai gerak, pola lantai, busana, tata rias, iringan musik dan ekspresi penarinya. Keempat, fungsi seni pertunjukan jaranan adalah sebagai pelestarian budaya tradisional merupakan fungsi yang dimunculkan oleh komunitas pelaku seni dalam mengaktualisasikan seninya dan oleh institusi yang memiliki tujuan pelestarian seni budaya tersebut.



Potensi Keagamaan Ngerdani, Dongko

Potensi Keagamaan Ngerdani, Dongko

            Tokoh masyarakat desa Ngerdani sangat kompak dan harmonis. terutama ketika ada kegiatan selalu gabung dan selalu respon maupun respect. Kegiatan yang dimaksud antara lain: sholawatan, rutinan muslimat, kegiatan jama’ah yasin maupun tahlil baik dari masyarakat laki-laki maupun perempuannya. Jama;ah yang diikuti justru dari kebanyakan jama’ah ibu-ibu dan bapak-bapak. Mereka semua selalu aktif dan semangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun mereka semua kebanyakan dari tokoh yang tua namun hatinya selalu mempunyai niatan lillahita’ala.
            Jama’ah yang mengikuti rutinan yasin dan tahlil kurang lebih 50 orang. Sedangkan kegiatan rutinan muslimat kurang lebih 50 orang juga. Mereka semua adalah dari orang apa adanya, namun mereka semua kalaupun mempunyai sesuatu mereka tidak pelit-pelit untuk memberikan informasi apapun atau memberikan sesuatu yang mereka punya untuk orang lain. Pada potensi keagamaan masyarakat desa Ngerdani selalu meningkat dan memiliki niatan untuk selalu bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Terutama dalam hal keagamaannya yaitu cara sholat yang baik dan benar, tentang fiqh  yang ada di dalamnya juga.
            Dari anak pemudanya ataupun remajanya  desa Ngerdani juga memiliki aktifitas keagamaan yaitu berupa sholawatan. Mereka selalu menyempatkan waktu luang untuk bersholawat. Dengan semakin kreatifitasnya yang semakin meningkat mereka juga semangat bergabung dalam kegiatan apapun. Mereka tidak malu-malu untuk membagi ilmunya kepada orang lain dalam hal group sholawatan.

            Inilah sekilas potensial keagamaan dari warga masyarakat desa Ngerdani yang dimana keagamaannya mempunyai jiwa yang tinggi dan semangat yang tinggi dalam berjuang dekat dengan Allah swt. 

Sejarah Desa Ngedani Dongko

TENTANG NGERDANI DONGKO

Ngerdani berasal dari kata Ngerdo dan Mratani yang artinya subur makmur dan sangat mencukupi. Ngerdani merupakan tempat desa yang terletak di Kabupaten Trenggalek, lebih tepatnya di Kecamatan Dongko. Secara geografis kecamatan Dongko terletak diantara 111’24’’-11211”BT dan 753’-834’ LS. Iklim yang dimiliki kecamatan Dongko adalah tropis, sehingga meliputi musim kemarau dan musim penghujan. Oleh karena itu, di Ngerdani ini cuacanya dan hawanya sangat dingin sekali dan udaranya masih asri. Ngerdani adalah sebuah desa yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang karena desa tersebut teletak di daerah pegunungan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Akses menuju Desa Ngerdani ini tidak terlalu mudah bagi orang yang belum pernah berkendara di pegunungan. Namun tidak banyak orang yang mengetahui Desa Ngerdani memiliki keindahan alam dan kekayaan alam yang melimpah seperti pohon pinus yang dapat memanjakan mata.

Pada dasarnya Ngerdani memiliki banyak sekali potensi. Potensi dalam perekonomian salah satunya adalah janggelanJanggelan merupakan tanaman yang diolah menjadi makanan seperti cendol. Berwarna hitam pekat karena pengolahannya dicampur dengan abu. Kemudian potensi dalam seni budaya salah satunya adalah jaranan. Jaranan merupakan kebudayaan di Indonesia yang harus dilestarikan. Di Ngerdani ini jaranan sangat membudaya. Banyak masyarakat yang mempunyai paguyupan jaranan. Oleh karena itu, kebudayaan ini harus tetap dijaga dan di lestarikan. Sebenarnya di Desa ini masih terdapat banyak sekali potensi-potensi selain dalam perekonomian dan dalam bidang kebudayaan. Karena keterbatasan penulis, penulis hanya menuliskan potensi-potensi dalam perekonomian dan kebudayaan tersebut. Lebih jelasnya informasi yang akurat dan lengkap dapat di lihat di artikel-artikel tekait dengan Ngerdani selanjutnya.

CIRI KHAS DESA NGERDANI DONGKO

CIRI KHAS DESA NGERDANI

Selain memiliki potensi alam yang berlimpah Desa Ngerdani juga memiliki ciri khas yang unik baik dari cara berbicara, kebiasaan maupun adat istiadat. Disini penulis mengungkapkan pengalaman yang pernah dialami selama masa KKN.  Di Desa Ngerdani semua warganya sangat ramah, walaupun mereka belum pernah berkenalan tetapi setiap warganya selalu sapa menyapa. Hal ini dikarenakan sejak kecil mereka sudah ditanamkan sopan santun yang sangat kental oleh keluarganya. Terbukti dari cara berbicara mereka yang sangat sopan dan halus bahasanya dengan semua orang baik dari anak kecil maupun orang dewasa. Di zaman modern saat ini sudah sangat jarang ditemukan sopan santun yang dijunjung tinggi seperti di Desa Ngerdani ini.
Hal yang sangat penulis ingat dan yang sering di dengar saat bertemu orang Ngerdani yaitu kata “Pun sami dangu?” dan mereka menjawab “Nembe” dengan nada berbicara mereka yang sangat khas, kata tersebut sering terucap disaat ada pertemuan seperti yasinan, rutinan fatayat muslimat NU dan lain-lain. Selain kata tersebut kata lain yang sangat khas dari Desa Ngerdani ini yaitu “Dereng wangsul mas/mbak?” dan mereka menjawab “Ngentosi trenceng Bu”, kata tersebut maksutnya menunggu hujan berhenti dulu.

Dari segi adat istiadat Desa Ngerdani juga memilki ciri khas yang unik salah satunya terletak pada suguhan yang diberikan saat rutinan yasinan kalau pada umumnya di kota berupa makanan berat seperti soto, rawon dan lain-lain, namun di desa Ngerdani ini disuguhi jajanan ringan atau biasa disebut rampatan yang biasanya diisi dengan jajanan onde-onde, donat, dan gabin. Onde-onde di desa Ngerdani pun juga sangat khas tidak seperti onde-onde yang biasa ada di kota-kota, kalau onde-onde di kota berwarna kekuning-kuningan dengan taburan biji wijen dan isian kacang hijau, namun di Desa Ngerdani onde-ondenya berwarna pink yang terbuat dari ketela dengan isian gula merah. Selain itu, donat didesa ngerdani juga terbuat dari singkong yang biasanya di kota terbuat dari tepung kentang maupun terigu, gabin pun isiannya juga terbuat dari ubi yang biasanya di kota isiannya dari adonan roti seperti tape singkong atau seperti isian lumpia basah. Demikian sekilas info yang dapat penulis sampaikan. Untuk info unik dari desa Ngerdani lainnya silahkan tunggu artikel-artikel selanjutnya.